top of page

Kampung naga

  • Aug 30, 2018
  • 3 min read

Satu tahun yang lalu, Jadi ceritanya saya masih sering banget nginep di rumah elisa.   eh si elisa dan temen temen arsitekturnya di kasih tugas bikin video tentang arsitektur Vernakular, jadi saya di ajaklah sama elisa ke kampung naga Tasikmalaya. 

(ini potret temen-temen yang ikut ke kampung naga) 

Saat itu matahari memancarkan sinarnya di pagi hari. Kira kira jam 6 Pagi, kita sudah sampe di depan pintu masuk kampung naga. Setelah malam hari, yg kita lewati dengan menaiki 3 bus dari jakarta, untuk akses ke kampung naga bersama temen temen arsitektur. Sambil menunggu pemandu wisata, dari orang setempat sana, kami mempersiapkan alat alat yg mau digunakan, ada pula temn" yg ke kamar mandi, untuk sekedar basuh muka dan gosok gigi, percayalah mereka semua tidak mandi pagi hahahah, ketika semuanya pada sibuk mempersiapkan diri cuma dico aprindo (orangnya yang di depan nomber 4 dari sebalah kiri) doang yang malah asik main bola sama anak anak kecil di tempat tersebut (serasa rumah nenek kali) hahah. 

Pemandu pun datang kami di arahkan menuju kampung naga dengan menapaki 439 anak tangga. Saat menuruni anak tangga kami melihat panorama alam indah, seperti bentangan sawah, tebing hingga sungai yang indah. Komplek Desa dengan luas 1,5 hektar ini di huni oleh 300 orang dari 101 kepala keluarga, terdapat 113 bangunan yang terdiri dari 110 rumah, 3 bangunan sarana umum berupa masjid, balai pertemuan serta lumbung padi, di sana tidak menggunakan listrik dan terikat adat. Nama kampung naga sendiri di ambil dari kata "kampung dina gawir". Dina dalam bahasa sunda yg artinya "di" sedangan gawir artinya tebing / jurang. Bisa di artikan kampung yang terletak di dalam tebing /jurang. Lama kelaman masyarakat setempat menyingkat nama kampung dina gawir ini menjadi kampung naga, itulah sejarah singkat kampung naga. 

Penduduk yang ramah,  kolam ikan yang di penuhi dengan banyak ikan,  serta aktivitas penduduk yang sedang menumbuk padi di lumbung padi.  kami pun memulai kegiatan kami mengumpulkan footage video untuk temen temen arsitektur. 

Matahari yang terik,  membuat kami sedikit kelelahan,  akhirnya kami di arahkan ke salah satu rumah penduduk untuk beristirahat,  serta menggali informasi tentang kampung naga, dari segi arsitektur sampai sejarah kampung naga sendiri,  di sana juga ada tempat terlarang,  wisatawan tidak boleh mengambil gambar atau pun video. Selain bercerita Tentang kampung naga.  Kami pun melihat serta membeli cenderamata,  yang di sana ada yang terbuat dari kayu,   bambu serta ada pula yang terbuat dari kain.  Saya sendiri membeli tas loh. 

Jalanan tanah serta bebatuan yang kami injak membawa kami ke Perjalanan berikutnya,  ke balai desa,  balai pertemuan serta ke masjid.  Kami sempat berlama lama di sana sambil membeli es cincau hijau yang kami temui di depan masjid.  Setelah kita merasa cukup mengambil footage video.  Kami pun menuju sungai,  melihat bebatuan sungai serta air yang mengalir,  terasa adem.  Apalagi melihat canda tawa yang menghiasi wajah mereka,  begitu menyenangkan. 

Berjalan menelusuri Pinggir sungai membawa kami ke tempat titik awal,  kami masuk, tidak luput kami pun berfoto bareng. 

(background tampak depan rumah di kampung naga) 

Teman teman sudah cukup lelah,  akhirnya kami pun memutuskan untuk pamit pulang.  Sambil menunggu bus arah jakarta,  kami  ke sebuah warung makan untuk mengisi perut.  Setelah makan,  tidak lama kemudian mobil pun arah jakarta pun tiba kami berlarian menuju mobil tersebut dan pulang. 

Itulah cerita  ke kampung naga sama anak arsitektur yang seru banget, orangnya kompak kompak dan setia kawan, awalnya saya agak canggung sama mereka, karena ada beberapa orang yang  baru kenal, lama kelamaan bareng mereka asik juga. Keep solid gengs. Semoga kita bisa trip bareng lagi hahaha  

 
 
 

Comments


© 2023 by The Mountain Man. Proudly created with Wix.com

  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Pinterest Icon
  • Black Flickr Icon
  • Black Instagram Icon
bottom of page